Menyoal Surplus Beras

Jakarta, Sultrapost.com – Peneliti Suropati Sindicate, Alhe Laitte menyoal surplus beras yang dicapai sampai saat ini. Menurutnya, pada Januari 2018 memang sedang panen padi dari hasil tanam bulan Oktober 2017.

“Saat ini sedang panen di mana-mana sehingga tiada hari tanpa panen, tiada hari tanpa tanam. Bahkan media pun telah memberitakan fakta adanya panen padi,” demikian kata Alhe di Jakarta, Kamis(11/1/2018).

Untuk diketahui musim hujan dimulai sejak Oktober 2017 yang lalu hingga sekarang. Pada Oktober, petani tanam padi dan sekarang panennya. Panen raya padi akan terjadi mulai akhir Januari 2018. Untuk itu agar siap siap antisipasi karena biasanya panen raya, harga akan jatuh.

“Jadi, dari fakta ini, beras memang surplus. Bukti surplus terkonfirmasi data stock beras harian di PIBC di atas normal lebih tinggi dari 30 ribu ton. Stock beras di Bulog sekitar 900 ribu ton, aman untuk Rastra 3 hingga 4 bulan ke depan,” terangnya.

Lebih lanjut Alhe menjelaskan produksi beras 2017 telah selesai dikonsumsi oleh 261 juta jiwa hingga akhir Desember 2017. Bukti ada surplus beras, dapat dicek pada awal Januari 2018 ini masih banyak stock beras di petani, di penggilingan, di pedagang, di konsumen dan horeka maupun di gudang Bulog dan BUMD.

“Bukti Surplus beras juga terlihat, kita sejak 2016 mengonsumsi beras tanpa ada impor beras umum,” ujarnya.

Alhe pun menegaskan saat ini yang terjadi yakni kualitas gabah bagus dan harga gabah menjadi bagus, sehingga penggilingan dan pedagang mengolah menjadi beras kelas premium dan dijual di pasaran. Buktinya beras premium melimpah dan silakan di cek di pasar induk cipinan.

“Beberapa penggilingan memang beroperasi, sebagian tidak beroperasi sepanjang hari dan bulan, melainkan ada yang musiman sesuai dengan musim panen, disesuaikan dengan kemampuan permodalan dan lainnya,” tegas dia.

“Masalahnya kenapa kinerja serap beras Bulog 2017 buruk?. Serapan beras Bulog 2017 hanya 2,16 juta ton atau hanya 57 persen dari target 3,7 juta ton,” sambungnya.

Alhe menyebutkan kinerja ini jauh lebih buruk dibandingkan realisasi 2016. Belum lagi diperparah dengan berbagai kasus oplos beras oknum Bulog yang saat ini sedang ditangani pihak berwajib.

“Kenapa Bulog tidak menyerap beras petani? Apa karena lebih nyaman dan lebih praktis impor beras dari pada kerja keras membeli gabah/beras petani?,” tanya Alhe.

Karena itu, Alhe meminta agar Bulog menyerap gabah/beras petani terutama pasa saat panen raya, karena barang ada di lapangan. Kualitas gabah saat ini sangat bagus sehingga petani sedang menikmati harga gabah yang bagus.

“Tapi antisipasi dua minggu lagi masuk panen raya, jangan sampai harga jatuh,” pungkasnya.

Laporan: Andri

694 kali dilihat, 0 kali dilihat hari ini

Share

Berita lainnya

Leave a Comment